Apakah ratio hutang Indonesia memburuk atau membaik?

by | Feb 9, 2019 | Ekonomi & Bisnis

 

Foto diatas adalah data ratio utang indonesia dari tahun 2005 ke tahun 2019. Kita sama-sama ingat di tahun 2005 ketika bapak Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai presiden, ration hutang saat itu masih tinggi. Dilihat dari data yang ada, di akhir masa jabatan bapak SBY, ratio hutang negara menurun. Ratio hutang terendah ada di tahun 2012 yang hanya 23%. Ini menjadi salah satu prestasi bapak SBY di masa jabatannya. Namun  lain halnya saat bapak Joko Widodo mulai menjabat sebagai presiden Indonesia di tahun 2014. Ratio utang negara meningkat drastis.

Dari data yang dikutip dari CNBC Indonesia, ratio utang negara Indonesia sekitar 30,04%. Ratio hutang ini belum dianggap bahaya karena masih jauh jika dibandingkan dengan beberapa negara. Turkey masih diatas Indonesia dengan hutang 32%, dan yang tertinggi yaitu Brazil dengan hutang 88%. Kenaikan hutang Indonesia tidak begitu banyak jika dibandingkan dengan 3 tahun lalu. Di 2017, ratio hutang Indonesia berkisar 35,1%. Lalu di tahun 2018 ration hutang Indonesia menurun hingga menyentuh angka 29,9%. Dan di quartal 2019 awal ini, hutang Indonesia naik 0,5% menjadi 30,4%

Namun yg harus menjadi catatan pengalokasian hutang-hutang harus dalam pos-pos yg paling produktif sehingga kedepannya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Melahirkan pusat-pusat ekonomi baru dan memangkas biaya distribusi industri.

Apakah bapak Joko Widodo sudah mengalokasikan anggaran ekonomi kita ke arah yang lebih baik? Di awal tahun 2019 kita sangat dikejutkan dengan kenaikan dollar US dari 13.800 rupiah menyentuh angka 15.200 rupiah karena efek Perang dagang antara China dan Amerika.  Pelemahan rupiah ini berhasil Di tindaklanjuti dengan cepat oleh Jokowi seiring dengan mereda nya perang dagang dunia. Menjaga pertumbuhan ekonomi di saat perang dagang china dan amerika sudah cukup baik tidak lain tidak bukan berkata tangan dingin Sri Mulyani.

Ditahun politik ini, sebenarnya hal seperti ini sangat sensitif. Tim oposisi semakin menggerus beberapa fakta yang Ada. Faktanya antara lain mengenai pertumbuhan ekonomi yang tidak bisa memenuhi target sesuai dengan janji Jokowi Di awal jabatan nya. Pertumbuhan ekonomi saat ini berasal pada angka 5,17%, sementara janji Jokowi saat itu 7%. Tahun ini target pemerintah untuk menyentuh angka 5,4% juga gagal. Jika dilihat sejak Jokowi menjalani, Pertumbuhan ekonomi pada 2014 sebesar 5,01 persen, turun pada 2015 menjadi 4,88 persen, serta naik sedikit demi sedikit jadi 5,03 persen pada 2016 dan 5,07 persen pada 2017.

Ditahun akhir masa jabatan Jokowi ini, Ada lagi mengenai perpres 20 mengenai UU tenaga kerja asing yang disahkan pada April 2018 yang dianggap terlalu memihak tenaga kerja asing. Belum lagi soal hukum Di negeri ini yang belum Adil, seperti Yang Kita ketahui kasus baru-baru ini mengenai Ahmad dhani yang dipenjara dengan tuduhan ujaran kebencian. Publik seperti tidak punya ruang lagi Dalam menyuarakan suaranya.

 

Baca juga:  Tips Menyusun Penelitian Skripsi, Tesis Dan Disertasi Agar Cepat Selesai

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Topics

AndikaTalk

Follow kami di :

EKONOMI & BISNIS

Adsense

MOTIVASI

Download E-book Gratis!

Download E-book dan E-magazine Grapadinews Gratis!

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This