Menyelami Hakikat Kehidupan Seorang Muslim di Dunia

by | Nov 21, 2022 | Khazanah, Motivasi

Ada sebuah pertanyaan tentang hakekat hidup ini, apa sebetulnya yang dicari oleh manusia di dunia ini? terus untuk apa kita hidup? Apakah manusia hanya untuk bekerja mengumpulkan harta sebanyak banyak nya, berumah tangga dan bersenang senang dengan apa yang dimilikinya, ada juga yang mengagungkan pangkat dan jabatan agar dihormati orang.

Tujuan Allah SWT Menciptakan Manusia

Sebelum membahasnya lebih jauh, marilah terlebih dahulu kita memahami kenapa Allah SWT menciptakan manusia. Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki peranan penting dalam kehidupan di Dunia. Manusia juga dipandang sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya dibandingkan makhluk Allah SWT bahkan Allah menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam Alaihi salam.

Proses penciptaan manusia dijelaskan dalam al-Qur’an dan bahkan penjelasan dalam Al Qur’an ini kemudian terbukti dalam ilmu pengetahuan yang ditemukan setelah turunnya Al Qur’an. Ada lima tahap dalam penciptaan manusia yakni al-nutfah, al-‘alaqah, al-mudhghah, al-‘idham, dan al-lahm sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٍ مِّن طِينٍثُمَّ جَعَلْنَٰهُ نُطْفَةً فِى قَرَارٍ مَّكِينٍ. 

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَۗ فَتَبَارَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخَالِقِيْنَۗ

”Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, dan segumpal darah itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami jadikan segumpal daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, pencipta yang paling baik”. (QS. Al-Mu’minun ayat 12-14)

Disebut dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, tugas manusia di muka bumi ialah untuk menjadi pemimpin di muka bumi, untuk memakmurkannya. Memakmurkan, baik dalam arti kesejahteraan atau ketaatan kepada Allah SWT.

Allah SWT yang dalam QS. Al-Baqarah ayat 30:

وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ‌ؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Baca juga:  Shalawat Nariyah Membuat Hati Tenang

Sebagai seorang khalifah maka masing-masing manusia akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari akhir.

Para ulama ahli tafsir mengatakan manusia ditunjuk oleh Allah di muka bumi untuk menjadi pemimpin. Pemimpin, baik bagi dirinya, keluarganya, komunitas, maupun negaranya dalam cakupan yang lebih besar. Tugas sebagai Khalifah Allah, berarti menjadi wakil Allah untuk mewujudkan kerahmatan-Nya di muka bumi.

Hakekat Kehidupan Manusia di Muka Bumi

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memperingatkan kita terhadap jebakan-jebakan kehidupan duniawi. Salah satunya menegaskan bahwa kehidupan dunia adalah kesenangan yang melalaikan (mata’ul ghurur), dan menyebutnya sebagai sekedar permainan, senda gurau, perhiasan, adu gengsi, dan berbangga dengan banyaknya harta serta anak.

Kehidupan dunia ini diperhiasi dengan berbagai macam kesenangan, karena memang begitulah Allah SWT menciptakannya sesuai dengan fitrah manusia. Dan setiap kita pastilah menginginkan bisa meraih kesuksesan duniawi ini, dalam berbagai ukuran yang konkret.

Allah SWT berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنْ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنْ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” [Qs.Ali Imran: 14]

Sehingga seringkali kita berupaya mengejarnya untuk bisa mewujudkan impian itu, yang terkadang menjadikan sebagian manusia lupa akan hakikat hidup duniawi, yang sebenarnya merupakan sebuah ujian. Sebagaimana firman Allah SWT

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Dunia ini memang sangat menggoda, sehingga berapapun harta dan capaian hasil yang bisa diraih manusia, dia akan selalu berkeinginan untuk menambah, dan terus menambah tanpa ada kata berhenti.

Dari sahabat Ibnu ‘Abbas r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Baca juga:  Berkah Dalam Syair 'Lam Yahtalim Qottu Thoha', Penjelasan Lengkap Beserta Artinya

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih; HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hal ini kita diingatkan, bagaimana menyikapi kehidupan dunia ini, Allah ﷻ berfirman,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya”? [Quran Al-Qashash: 60]

Memanfaatkan Waktu Menjadi Khalifah di Bumi

Sebagai manusia, kita tentu menyadari bahwa waktu yang Allah berikan kepada kita di alam dunia ini sangat berharga. Sampai-sampai orang barat yang kafir pun punya semboyan ‘time is money’ yaitu waktu adalah uang. Itu menurut mereka, yang memiliki target dan cita-cita dunia semata.

Adapun bagi orang beriman, waktu ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa menebas musuh atau justru melukai dan mencelakakan diri kita sendiri. Bukan salah waktunya, tetapi kesalahan ada pada manusia yang tidak pandai memanfaat waktu untuk kebaikan dan kebahagiaan. 

Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)

Imam Al-Qurthubi menukil tafsiran Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud al-’Ashr adalah ad-Dahr/waktu atau masa (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 22/463).

Imam al-Baghawi menukil tafsiran sebagian ulama tentang maksud Allah bersumpah dengan waktu, yaitu disebabkan pada waktu itu terdapat pelajaran bagi setiap orang yang memperhatikan (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1431)

Kerugian itu akan dialami manusia ketika tidak mengisi kehidupan ini dengan iman dan amal salih. Imam Ibnu Katsir menjelaskan maksud dari ayat tersebut bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang beriman dengan hatinya dan beramal shalih dengan anggota badannya dari kerugian dan kehancuran. Mereka yang saling menasihati dalam ketaatan dan meninggalkan keharaman. Demikian pula mereka yang bersabar ketika tertimpa musibah dan sabar tatkala menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar dari segala bentuk gangguan (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 8/480)

Baca juga:  Berkorban di Jalan Allah Melalui Cinta

Dengan begitu seorang muslim memahami tujuan hidupnya di alam dunia ini. Sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam ayat (yang artinya),

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Bagaimana sikap yang terbaik bagi kita dalam menyikapi kehidupan dunia ini?

Pertama, hidup di dunia ini hanya sementara, sebagai tempat transit; yang kemudian akan ditinggalkan. Maka hendaknya selalu bersiap diri untuk meninggalkannya, dan kerjakan sesuatu amalan yang terbaik selama masih diberi hidup di dunia.

Kedua, dunia ini sebagai ujian, dalam berbagai keadaan, suka maupun duka, lapang maupun sempit; terpaksa atau sukarela. Apakah kita masih ingat dan tetap beriman kepada Allah, sehingga setiap perbuatan kita akan menjadi bernilai ibadah.

Ketiga, meskipun kehidupan dunia ini sangat singkat, tetapi akan menjadi sangat berharga bila semua dalam perilaku kita didasari iman dan hanya untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Semua yang dilakukan dan diraih dalam hidup ini diniatkan sebagai bekal memasuki kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Orang yang demikian akan selalu berusaha melakukan perbaikan diri; kemudian berusaha meninggalkan perbuatan negatif, merusak atau segala hal yang bersifat kontra produktif bagi kepentingan akhirat.

Oleh karena itu, mumpung kita masih hidup, maka manfaatkanlah sebaik-baiknya umur kita. Jangan terpedaya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi).

Bila manusia mengingat akan hakikat tersebut, maka pasti kehidupan duniawi itu tidak akan menjadikannya lalai dari mengingat Allah, tidak membuatnya meninggalkan kewajiban dan tidak membuatnya jatuh melanggar larangan, maka dia akan beruntung di dunia dan di akhirat.

Orang yang demikian akan senantiasa merasakan kedamaian, hidup yang lapang harmonis dan berbuat segala sesuatu yang mengandung manfaat serta tujuan yang jelas. Hati dan jiwanya selalu tenang. Dan bila saatnya ajal tiba, kondisi jiwa orang yang demikian akan dipanggil menghadap kepada Allah dalam keadaan ridha serta diridhoi, dan di akhirat nanti dipersilahkan masuk kedalam surga dengan kenikmatan tiada tara, hidup bahagia selama-lamanya.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending Topics

AndikaTalk

Follow kami di :

EKONOMI & BISNIS

Adsense

MOTIVASI

Download E-book Gratis!

Download E-book dan E-magazine Grapadinews Gratis!

You have Successfully Subscribed!