Pengertian Sufi, Tasawuf & Etimologinya

by | Mar 25, 2020 | Khazanah

Hiruk pikuk dunia terkadang membuat umat Muslim lupa daratan. Dipenuhi dengan iming-iming kebahagiaan, maka mereka lebih mudah terlena dengan urusan duniawi ketimbang beribadah kepada Tuhan-Nya. Dalam hal ini Islam memerintahkan kepada setiap pemeluk-Nya untuk senantiasa beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebab kesenangan di bumi ini hanyalah sementara.

Untuk itu Tasawuf lahir sebagai upaya untuk merenung, dan menjauhkan diri dari kehidupan dunia yang terlalu bising. Maka sebagai dasar dari itu pula, muncul istilah Thariqat yang merupakan cara atau metode untuk mendekatkan diri kepada Pencipta. Ilmu ini muncul sebagai bimbingan spiritual bagi mereka yang ingin mencapai kebenaran hakiki. Namun apa sebenarnya arti dari istilah tersebut?

A.      Definisi umum

Mendekatkan diri kepada Allah SWT wajib hukumnya bagi umat Nabi Muhammad SAW. Bahkan hal tersebut termasuk dalam hukum Islam. Thariqat merupakan cara atau tindakan sebagai upaya untuk lebih mendapatkan ilmu spritualitas guna lebih dekat dengan Pencipta-Nya. Mereka wajib untuk mengamalkan ilmu Tasawuf, Tauhid dan Fikih agar lebih merasakan dan melihat Tuhan.

B.      Pengertian Etimologi

Thariqah berasal dari bahasa Arab yang berarti jalan. Dalam Islam, konteks ini berarti sebuah jalan untuk mencari ridho Allah dan memohon pengampunan atau pertaubatan. Meski secara bahasa sama dengan pengertian Syari’at, namun istilah ini lebih abstrak, dan halus.

Misalkan saja seorang yang akan hendak pergi ke suatu tempat dan harus melewati padang pasir. Karena tidak tahu jalan atau arah, orang tersebut harus mencari tahu tentang waktu melalui pergerakan matahari, bulan dan bintang, mengamati terbangnya burung dan keadaan sekeliling. Di saat mengalami kesulitan itulah, ia memiliki pengharapan kepada Allah SWT untuk membantu manakah arah dan jalan yang benar.

Sementara itu menurut Mircea Aliase, Thariqat merupakan metode untuk memperoleh tujuan spiritualitas. Masih berhubungan dengan Tasawuf yang mulai populer pada abad ke 12 dan 13 Masehi, ilmu ini merupakan salah satu cara bagi sufi untuk dekat Sang Rab.

Baca juga:  Ketika Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

C.      Merupakan amalan dari Tasawuf

Dalam tindakannya, Thariqat berisi amalan-amalan dari Tasawuf yang perlu diaplikasikan untuk mengharapkan ridho dan kedekatan dengan Allah SWT. Sementara itu, menurut para ulama istilah ini harus memiliki lima dasar sebagai pencapaiannya,

  1. Menuntut ilmu sesuai dengan perintah Tuhan, yang mana ilmi merupakan salah satu amalan yang bisa menyelematkan manusia dari siksa api neraka.
  2. Senantiasa mendampingi teman se-thariqat untuk bersama melakukan kebaikan, serta menghormati guru.
  3. Rukhsah dan ta’qil ditinggalkan untuk kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  4. Mengisi waktu dengan do’a dan wirid sebagai salah satu bentuk amalan mengingat dan menyebut Tuhan serta Rasulullah.
  5. Menahan hawa nafsu terutama untuk urusan dunia, sehingga selalu bersungguh-sungguh merenung dan menenggelamkan diri untuk Allah SWT.

D.      Dipimpin oleh Mursyid atau Syeikh

Dalam prakteknya di kehidupan sosial, Thariqat menjunjung tinggi guru. Sebagai muslim sudah sepatutnya untuk menghormati orang yang dianggap memiliki ilmu lebih tinggi. Sementara itu, perkumpulannya dimpin oleh Mursyid atau Syeikh.

Mereka yang ditunjuk sebagai pemimpin Thariqat bukanlah orang sembarangan. Orang yang memutuskan untuk mendekatkan diri kepada Allah sudah sepatutnya perlu pembimbingan dari yang memang dianggap punya ilmu mumpuni terhadap agama Islam. Mereka diibaratkan sebagai pimpinan yang tahu arah dan bertanggung jawab penuh terhadap pengikutnya.

Siapapun yang berniat untuk bergabung dengan kelompok Thariqat, maka haruslah mengambil Bai’at kepada Mursyid atau Syeikh. Nantinya mereka bersama-sama melakukan amalan-amalan dan dzikir untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ilmu Thariqat mengajarkan untuk saling menghormati antara guru dan pengikutnya. Mereka bersama-sama mencari keridhoan Allah  SWT dengan mengamalkan ajaran agama Islam.

Beribadah kepada Allah wajib hukumnya bagi setiap muslim. Sang Pencipta menganjurkan kepada umat Baginda Nabi Muhammad untuk senantiasa bertasbih, menjalankan perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Hal tersebut bertujuan agar mereka selamat di dunia maupun di akhirat.

Usai peninggalan Rasulullah, kehidupan politik dan moral umatnya mulai tercerai berai. Mereka seolah sudah lupa dengan ajaran Nabi dan lebih memilih berfoya-foya dengan duniawi. Namun di saat inilah, muncul kalangan Sufi yang mencetuskan sikap Tasawuf dengan tujuan agar lebih dekat dengan Allah SWT.

Baca juga:  Pemimpin Ulil Amri dan Merajut Kembali Persatuan Indonesia

Lalu siapa sebenarnya Sufi tersebut? Bagaimana mereka menyebarkan ajaran agama Tauhid berlandaskan ajaran Rasulullah hingga ke seluruh pelosok negeri?

A.      Pengertian secara umum

Sufi merupakan orang yang memutuskan untuk mendalami ilmu Tasawuf. Dalam keseharaiannya, seorang sufi lebih memilih untuk menjauh dari hiruk pikuk dunia, dan menenggelamkan diri untuk beribadah setiap saat kepada Allah SWT.

Untuk memenuhi kebutuhan jiwanya, para sufi menghabiskan waktu luang untuk berdzikir dan wirid. Mereka menjadikan ibadah sebagai cara untuk lebih dekat dekat dengan Tuhan, serta mendamaikan ruh serta pikiran dari dunia yang penuh sesak.

1.       Adakah Sufi di zaman Nabi Muhammad?

Tasawuf sendiri mulai dikenal usai sepeninggalan Nabi, tepatnya saat pemerintahan Utsman. Maka istilah Sufi sebetulnya belum dikenal di era Rasulullah. Bahkan sebutan itu tidak tertera dalam al-Qur’an maupun hadis dan tidak memiliki akar dalam Bahasa Arab, sehingga ahli berpendapat bila kata itu merupakan sebuah gelar.

2.       Diduga dari Bahasa Yunani

Meski tidak memiliki induk atau akar bahasa, namun para ahli mencoba menghubungkan dengan kata dari Bahasa lain, salah satunya dari Yunani. Sufi diduga berasal dari kata Shopia yang berarti kebijaksanaan.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Sufi dikenal sebagai orang yang rajin beribadah. Tujuan mereka hanya Ridho Allah SWT. Pemikiran-pemikiran merka dikenal filosofis dan abstrak. Maka dari sanalah kemudian penggabungan Shopia dan Filsuf menjadi Sufi.

Namun rupanya pendapat tersebut dipecahkan oleh Thaha A. Ia berpendapat bila menghubungkan istilah Sufi dan masyarakat Yahudi tidaklah bisa diterima. Sebab praktik Tasawuf murni berasal dari Islam dan tidak ada hubungannya dengan tradisi kaum lainnya.

B.      Pengertian secara etimologi

Meskipun Sufi diduga tidak memiliki akar kata, namun para ahli mencoba untuk menghubungkan dengan induk kata dalam Bahasa Arab. Sehingga secara etimologi istilah tersebut berasal dari kata berikut ini,

  1. Shaff artinya barisan. Para Sufi selalu berada di barisan paling depan untuk membela Islam dan Rasulnya. Ketinggian iman dan takwa membuat mereka ingin selalu berada di sisi Allah dan memperjuangkan agamanya.
  2. Sufah dikenal sejak zaman Jahiliyah. Istilah ini digunakan untuk mengacu pada laki-laki yang menghabiskan waktunya untuk berkeliling Ka’bah. Orang tersebut bernama Gofur bin Mur yang mengisi harinya dengan beribadah.
Baca juga:  Rindu Rasulullah Mengubah Hidup Lebih Baik

 

Bahkan Ibnu Jauzi pernah mengatakan bila Muhammad bin Nashir menceritakan kepadanya dari Ibrahim Abi Ishaq. “Abu Muhammad Abdul Ghani, aku bertanya kepada Walid bin Qasim, dari mana sebutan Sufi bersandar?” Dia menjawab, “Pada zaman Jahilyah ada suatu kaum bernama Sufah, mereka selalu beribadah menyembah di sekeliling Ka’bah. Maka barang siapa yang menyerupai mereka, dia adalah Sufah.”

 

  1. Shuffah yang kemudian dinisbatkan menjadi Ahlus Shuffah. Istilah tersebut disematkan pada kaum Anshar dan Muhajirin miskin yang tinggal di sisi Masjid di Madinah. Kendati hidup mereka diliputi dengan kemiskinan, namun mereka terkenal taat beribadah.

 

Para ahli juga berpendapat bila As Shuffah memiliki arti bantalan empuk untuk dudukan kuda. Dalam kesehariannya, Ahlus Shuffah tidak memiliki rumah. Rasulullah menyediakan tempak duduk di Masjid Madina sebagai tempat istirahatnya. Di sanalah kemudian mereka tidur dengan beralaskan pelana.

 

  1. Shuf yang berarti bulu domba. Mereka yang tekun beribadah dan menjauhkan dari kehidupan duniawi, kerap menggunakan pakaian berbahan bulu domba. Hal tersebut merupakan simbol kerendahan hati.

Kini istilah Sufi dikenal sebagai orang yang menekuni ilmu Tasawuf dan senantiasa mengamalkan ajaran Rasulullah. Dalam perkembangannya, Sufi melahirkan aliran-aliran serta pemikira-pemikiran baru di dunia filosofi Islam.

 

 

 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Topics

AndikaTalk

Follow kami di :

EKONOMI & BISNIS

Adsense

MOTIVASI

Download E-book Gratis!

Download E-book dan E-magazine Grapadinews Gratis!

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This