Peran Thariqat untuk meningkatkan kompetensi umat

by | Oct 27, 2018 | Khazanah

 

Sebelum peradaban berkembang pesat seperti saat ini, manusia memang sejatinya adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan sehari-hari mereka membentuk kelompok-kelompok, saling membantu dan berinteraksi. Hal tersebut bertujuan untuk memenuhi kehidupan dan kepuasan batin.

Zaman semakin berkembang dan mulai memasuki era modern. Maka, kehidupan umat sudah lebih baik dari sebelumnya. Segala sesuatunya dapat lebih mudah dilakukan dengan kemajuan teknologi. Antara manusia satu dan lainnya makin memiliki konsep pemikiran yang sama, sehingga kehidupan mereka tentu lebih tertata.

Arus modernitas ini kemudian membawa banyak perubahan dalam kehidupan sosial, seperti misalnya perilaku dan aktivitas. Manusia modern memiliki pribadi yang lebih percaya akan dunia atau sesuatu yang bersifat riil. Mereka cenderung berpikir dengan rasional, logika dan kurang mempercayai yang tidak nampak.

Maka dari itulah lambat laun norma agama mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Sementara pemikiran materialis dan hidup yang condong pada dunia makin merajalela karena dengan itulah manusia sekarang lebih memperoleh kepuasan. Sementara lahiriyah sudah terpenuhi, namun keadaan batin mulai mengalami kekosongan.

Oleh sebab itu, kini muncul beragam konflik dalam diri, seperti rasa cemas, kesepian, merasa tidak ada yang membantu, frustasi hingga ketidak berdayaan. Faktor-faktor psikologis itulah yang kemudian menyebabkan perilaku menyimpang dan kurangnya moralitas.

Menjalankan urusan duniawi memang tidak ada salahnya, namun segala sesuatu yang serba mendukung kini makin menjauhkan umat manusia dari Ketuhanan. Apabila urusan duniawi tidak dibarengi dengan pengetahuan agama, maka tentu saja akan terjadi ketimpangan. Begitupula apabila menelaah mentah-mentah suatu ilmu agama, maka akan terjadi salah tafsir dan berpengaruh pada kehidupan sosialnya.

Maka dengan begitu, umat masa kini membutuhkan dorongan sprititualitas seperti Thariqat untuk mengisi kekosongan jiwanya, namun juga tak luput dari social life. Lalu bagaimana metode Tasawuf ini berperan dalam peningkatan kecerdasan manusia secara intelektual dan emosional?

Perlu keseimbangan antara dunia dan akhirat

Faktanya, ada manusia yang cenderung pada akhirat dibandingkan dunia bahkan ada juga yang sebaliknya. Ketimpangan ini harusnya bisa disinkronisasikan dengan mempelajari serta mendalami keduanya.

Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Ali Shariati dalam buku ESQ oleh Ary Ginanjar Agustian yang menyatakan bahwa manusia adalah makhluk dua dimensional yang membutuhkan penyelerasan kebutuhan akan kepentingan dunia dan akhirat. Maka dari itu, mereka harus punya konsep duniawi atau kepekaan emosi serta intelegensia yang baik (EQ plus IQ). Penting pula untuk penguasaan ruhiyah vertikal atau spiritual quotient.

Merujuk pada surah dalam al-Qur’an, Al Hijr Ayat 28-29 yang berarti bahwa jasad manusia dibuat dari unsur tanah yang terdiri dari daging, tulang, kulit. Semua bagian itu berfungsi dalam aktivitas fisikal. Namun selain itu, ada pula ruh yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan rohani, perasaan dan berhubungan dengan Ketuhanan.

Dengan adanya ESQ (Emotional-Spiritual Quetient) diharapkan ada keseimbangan antara urusan duniawi dan ukhrawi. Jika keduanya dilakukan bersama-sama, maka tujuan dan hakikat bisa dicapai dengan mudah.

Thariqat untuk kecerdasan ESQ

Islam merupakan agama yang sempurna. Selain menganjurkan umat untuk sepenuhnya bertakwa pada Pencipta-Nya, ajaran tersebut juga membantu manusia agar selaras pada urusan duniawinya. Kecerdasan EQ bisa diperoleh dengan cara mengembangkan aktivitas Spiritual Quotient (SQ). Adapaun yang dikenalkan oleh para sufi terdahulu yakni Thariqat.

Sebenarnya ada kekeliruan perspektif umat terhadap ilmu Tasawuf. Tidak sepenuhnya ajaran tersebut membuang urusan dunia, lantas berfokus pada akhirat. Sebab sejatinya jika demikian ilmu tersebut tidak relevan dengan kehidupan modern ini. Maka, banyak pula yang beranggapan miring terhadap konsep ini.

Baca juga:  Beri Minum Seekor Anjing, Ketulusan Seorang Pezina Membuahkan Surga

Padahal selain untuk urusan akhirat, Allah menciptakan khalifah di bumi untuk memelihara dan memperbaikinya. Oleh sebab itu, kebutuhan duniawi tetap dilakukan namun tidak berlebihan, juga akhirat tidak boleh begitu saja dilupakan. Sebab kehidupan di akhirat nanti lebih kekal dan abadi daripada di bumi yang fana.

Membangun kecerdasan intelektual dan emosial dengan Thariqat

Thariqat merupakan praktik dari Tasawuf. Sejak mulai disebarkan pada abad awal Hijriyah, konsep ini telah terpecah menjadi beberapa aliran. Sementara di era modern, adapun macamnya yakni Naqsyabandiyah, Rifa’iyah, Tijaniyah dan lain sebagainya.

Tujuan dari adanya Thariqat yakni mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kondisi jiwa serta spiritual. Dengan begitu umat Islam, tidak hanya diwajibkan untuk sholat namun melengkapinya dengan dzikir dan wirid seusainya. Kendati bukanlah hal yang wajib, namun Thariqoh dianjurkan untuk dilakukan setiap waktu, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah.

Semakin berkembangnya ilmu, maka Thariqat juga bisa menjadi cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional dan intelektual. Tata cara dan konsep-konsep di dalamnya melatih umat secara emosional agar mencapai kehidupan duniawi dengan pemikiran atau intelektualitas yang sesuai dengan ajaran agama Islam.

Emotional Quotient untuk pengendalian emosi lebih baik

Kecerdasan quotient atau emosional merupakan kemampuan untuk mengenali diri sendiri, mengatur emosi dan menggunakan akal serta perasaan secara seimbang. Ada pun orang baik dalam mengelola emosinya bisa memutuskan suatu perkara dengan pikiran jernih dan tepat. Mereka yang memiliki kecerdasan ini juga memiliki kepercayaan diri kuat dan mampu mengambil jalan mana yang dirasa benar dengan pertimbangan yang matang.

Sementara itu, emosi yang terjaga dengan baik juga memungkinkan seseorang untuk menempuh suatu tujuan dengan peralahan, perencanaan matang dan terarah, sehingga pantang bagi mereka untuk menyerah sebelum tepat sasaran. Adanya perasaan yang terjaga dengan baik ini juga membuat mereka mudah termotivasi akan dirinya sendiri dan bangkit dari segala permasalahan.

Maka dengan begitu seseorang yang pandai dalam mengendalikan emosinya akan lebih mudah bekerja sama, berinteraksi dengan baik, bersikap sesuai norma serta memunculkan kecerdasan intelektual.

Kecerdasan emosional menurut perspektif sufistik

Ditinjau dari perspektif sufistik, ajaran Thariqat tidak hanya terpaku dan menepi dari keramaian. Namun juga bagaimana manusia saling berhubungan, berinteraksi dan bekerja sama dengan lainnya. Sebab untuk mengejar akhirat, tidak cukup hanya menenggelamkan diri dalam dzikir dan wirid tetapi juga saling berbuat kebaikan pada sesama.

Salah satu praktik Thariqat yang dapat meningkatkan kecerdasan emosioanl (EQ) adalah muhasabah atau instropeksi diri. Cara ini memiliki banyak manfaat untuk peningkatan EQ, yakni syaja’ah atau berani untuk hidup mandiri dan berinteraksi dengan orang lain, optimis, sabar dalam menghadapi cobaan dan pendapat berbeda dari orang lain, serta dermawan.

Dari sisi ini, Thariqat memang mengajarkan umat Islam untuk bisa mengendalikan dirinya dan bersikap baik terhadap sesama. Dengan demikian, ia tidak hanya mendapatkan tingkat keimanan tertinggi namun hubungan baik antar manusia untuk kehidupan duniawi.

Meningkatkan Kecerdasan Spritualitas

Thariqat yang dilakukan oleh orang yang mendalami ilmu Tasawuf juga terdengar hingga belahan dunia Eropa hingga Amerika. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Michel Persinger di awal tahun 90-an dan ahli syaraf V. S. Ramachandran pada tahun 1997. Ilmuwan-ilmuwan tersebut menemukan bila dalam otak manusia terdapat God Spot, yakni jaringan syaraf yang menjadi pusat dari spiritualitas.

Baca juga:  Dalam Masa Wabah dan Kesulitan Ekonomi Minta Tolong ke Siapa ?

Dengan adanya penelitian ini disimpulkan bahwa setiap manusia memang memiliki potensi Ketuhanan. Hanya saja banyak faktor yang membuat manusia lalai. Akan tetapi, menurut penelitian tersebut juga menyebutkan bila manusia dalam kondisi emosi di titik rendah, maka God Spot akan bereaksi, dengan demikian akan kembali mengingat Tuhan-Nya.

Kehidupan modern yang begitu kompleks membuat manusia dihadapkan dengan berbagai macam pilihan. Rasa cemas, kecewa dan emosi naik turun merupakan hal biasa. Bahkan ada pula yang sampai terjerumus ke lubang hitam. Di sanalah manusia diuji apakah mereka akan mengingat Tuhan-Nya atau tidak.

Rasa jenuh dan kacaunya hati serta pikiran inilah yang kemudaian memunculkan spiritualitas. Sementara seperti dilaporkan dari CNN TV, bila spiritual neeed sudah lama marak di negara barat sejka tahun 60-an. Sementara menurut pandangan Islam, SQ ditunjukan dengan melakukan ibadah, amal shaleh dan komunikasi dengan Allah SWT.

Thariqat untuk kecerdasan spiritual

Islam memandang bila setiap manusia membutuhkan Tuhan-Nya, entah dalam keadaan bahagia maupun susah. Namun ada kalanya memang mereka lupa akan Sang Pencipta alam. Oleh sebab itu, ditawarkanlah jalan Thariqat untuk menumbuhkan kembali rasa cinta kepada Allah SWT.

Seperti dikutip dari Abu Bakar Aceh tentang Thariqat, halaman 65, “Thariqat bisanya timbul dalam situasi di suatu zaman dikala kehidupan manusia terdapat banyak kerusakan yang mengayomi kehidupan jasmani ataupun kehidupan rohani yang biasanya pada masa-masa tersebut kurang kesesuaian pada agama dan pada Tuhan yang biasanya diirngi oleh kerusakan moral serta akhlak.”

Dahulu Thariqat merupakan jalan yang ditempuh oleh para sufi untuk mengamalkan ilmu Tasawuf. Saat itu masyarakat mulai tenggelam dalam kemewahan dan seolah merupakan ajaran Rasulullah. Pergolakan politik juga merupakan faktor yang menjadikan mereka larut. Namun disisi lain, juga ada perubahan moral serta prilaku. Atas dasar inilah, orang-orang ahli ibadah di masa itu memilih jalan untuk berthariqat.

Menurut kaum sufi, kehidupan di dunia ini tertutup oleh dinding, yakni hawa nafsu dan kehidupan duniawi beserta kenikmatan di dalamnya. Dua hal tersebut dapat dengan mudah ditemukan dan dirasakan. Sementara kenikmatan yang tidak mudah ditembus adalah saat umat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kesenangan inilah yang kemudian mengantarkan manusia pada ridho dan ma’rifat.

Siapa saja yang memutuskan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka akan mengarahkan tuduhan pada qolbun dan amal maka dia telah berinvestasi pada akhirat. Mereka yang memutuskan untuk bertasawuf, maka selamatlah jiwanya. Nilai-nilai yang terkandung pada thariqat menjadikan mereka lebih memiliki kecerdasan spiritual, hidup bahagia, tertata, tenang dan senantiasa terjaga.

Hubungan Thariqat dan Intelegensi

Setelah ditinjau lebih dalam, maka dapat disimpulkan bahwa ada persamaan konsep antara ajaran Thariqat dan bagaimana mengembangkan kecerdasan emosional serta spiritual. Metode yang dikenalkan oleh para sufi ini dapat digunakan untuk mengembangkan dua kecerdasan tersebut. Namun tidak mengesampingkan urusan duniawi, karena pada dasarnya harus ada keseimbangan antara ukhrawi dan dunaiwi.

Kecerdasan dalam bahasa Inggris disebut dengan Intelligance, sementara dalam bahasa Arab disebut dengan al-Dzaka. Secara bahasa, itu artinya konsep pemikiran yang meliputi segala hal, baik dari segi menalar, merencanakan, memecahkan masalah, memutuskan pilihan, berpikir abstrak dan lain sebagainya.

Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif. Pada perkembangannya, intellect atau struktur akal tidak lagi hanya beraspek pada al-majal al-Ma’arif, namun sudah berkembang menjadi struktut Qalbu yang tak lain adalah emosional, moral, dan spiritual. Sementara itu, Menurut Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intellegencies menyebutkan bila manusia memiliki tujuh tingkat kecerdasan, yakni linguistik, matematik, spasial, kinetik, musikal, interpersonal, dan intrapersonal. Akan tetapi dalam penelitiannya, ia menambahkan dua kecerdasan lainnya yang dirasa sangat perlu, yakni Spiritual.

Baca juga:  Mengapa Harus Berthariqat ?

Kecerdasan interpersonal yang digagaskan oleh Gardner tersebut merupakan dasar dari Emotional Quotient, yang mana mencakup pengendalian diri, ketekunan, memotivasi diri sendiri dan bersikap lebih baik. Namun hal tersebut hanyalah untuk hubungan vertikal. Sementara untuk keseimbangan, maka diperlukan hubungan horizontal yakni spiritual.

Maka dari itu untuk keseimbangan kecerdasan, baik intelligence, emosional dan spiritual perlu adanya bimbingan. Dalam Islam, konsultasi tersebut diwadahi oleh Thariqat yang menawarkan lebih dari sekadar dekat dengan Tuhan-Nya, namun secara otomatis meningkatkan keimanan.

Jika secara umum bimbingan diartikan sebagai jalan untuk menuntun orang lain pada kehidupan yang lebih baik. Maka dalam Islam disebut juga dengan beberapa istilah di bawah ini:

  1. Irsyad nafsiyah yakni bagaimana caranya membimbing.
  2. Irsyad fardiyah yakni apabila seorang pembimbing langsung bertatap muka dengan orang yang dibimbingnya. Dengan demikian konsep ini lebih bersifat individual.
  3. Irsyad fi’ah qalilah yakni istilah untuk seorang pembimbing yang membimbing sekelompok orang lain secara langsung atau melalui media lainnya.

Konsep tersebut diperuntukkan membantu orang lain menemukan jalan terbaik sesuai dengan ajaran Rasulullah. Sementara itu, bimbingan Thariqat berfokus pada ruhani. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ruhani merupakan sesuatu yang berkenaan dengan jiwa atau kejiwaan seseorang.

Bimbingan ruhani yang diajarkan oleh Islam berfungsi untuk memberikan bantuan agar kehidupan lebih terarah, dan sistemis. Nantinya, mereka diharapkan bisa berperilaku dan mengamalkan ajaran Rasulullah sesuai dengan al-Qr’an dan Hadist.

Bimbingan Thariqat adalah dipimpin oleh seorang mursyid (pembimbing atau guru ruhani). Mereka mengarahkan para murid (ikhwan) untuk berjalan mencari ketenangan jiwa, namun juga berada sedekat mungkin kepada Allah SWT.

Sementara itu untuk menjadi seorang mursyid atau guru ialah orang-orang yang mutlak telah memenuhi puncak spiritual. Mereka yang bisa diandalkan disebut juga dengan Kamil Mukammil, yang mana orang tersebut telah mencapai puncak ma’rifatullah sebagai insan kamil, sehingga ia harus membimbing muridnya untuk mencapai tingkat spiritual yang sama.

Berdizkir dan wirid yang dilakukan oleh para ahli Thariqat juga bsia membuat seseorang untuk fokus. Mengucapkan asma Allah berulang kali dan hanya mengingat-Nya membantu dalam memandang suatu hal secara serius. Konsep ini berguna untuk kehidupan sehari-hari, sehingga siapapun dapat lebih mengerti dan menangkap suatu hal serta mengambil keputusan yang tepat.

Hingga kini thariqat di dunia terbagi menjadi 73 golongan. Sementara di Indonesia yang dikenal yakni 46 kelompok dan tersebar ke seluruh pelosok nusantara. Melalui penggolongan tersebut, umat tidak hanya difokuskan pada urusan ukhrawi namun juga duniawi guna membangun hubungan baik dengan sesama, memotivasi diri sendiri dan sebagai jembatan untuk menuju akhirat.

Kecerdasan Emosional dan Intelektual yang diajarkan oleh Thariqat adalah dengan Muhasabah atau instropeksi diri, sabar, rajai atau opstimis, itsar atau mendahulukan kepentingan orang lain, syaja’ah atau keterampilan sosial, sakho’un yang berarti dermawan. Maka disimpulkan bila Thoriqoh berperan besar untuk kecerdasan umat, baik dalam intelegensi maupun emosional.

Sumber:

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Topics

AndikaTalk

Follow kami di :

EKONOMI & BISNIS

Adsense

MOTIVASI

Download E-book Gratis!

Download E-book dan E-magazine Grapadinews Gratis!

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This