Riwayat Kehidupan Syekh Bahaaudin Naqsyabandiah

by | Aug 15, 2020 | Khazanah

Syekh Bahaudin Naqsyabandiah

Syekh Bahaudin Naqsyabandiah yang memiliki nama lengkap Al-‘Arif Billah Maulana Asy Syekh As Sayyid Muhammad Baha’uddin hidup pada tahun 717-791H tinggal desa Qoshrul ‘Arifan, Bukhara yang merupakan bagian dari Negara Rusia untuk saat ini.

Beliau merupakan syekh yang mendirikan thoriqoh yang dikenal oleh banyak jamaah diberbagai penjuru dunia yaitu Naqsyabandi.Thoriqoh ini sangat terkenal dan bisa Anda temukan di Indonesia sampai saat ini.

Perjalanan Hidup Syekh Bahaaudin Naqsyabandiah

Syekh Baha’uddin merupakan murid dari Syekh Muhammad Baba As Samas. 3 tahun sebelum kelahiran Syekh Baha’uddin, Syekh Baba As Samasi melewati perkampungan beliau dan mencium bau harum. Syekh Baba As Samasi bahwa bau harum ini berasal dari seorang anak laki-laki yang akan lahir 3 tahun kemudian.

Berdasarkan izin Allah SWT Syekh Baba As Samasi mengetahui pertanda tersebut dan menjadikan Syekh Bahaaudin menjadi muridnya sejak belia. Berkat gemblengan, didikan dan arahan dari Syekh Baba As Samasi, Syekh Bahaaudin berhasil memperoleh cita-citanya yaitu semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beliau juga memperoleh kopiah wasiat Al-Ajizan yang diberikan langsung oleh Syekh Baba As Samasi.

Pada suatu waktu, Syekh Bahaaudin melakukan Qiyamullail dan ketika sujud tubuh beliau bergetar hebat. Seusai shalat beliau berdoa untuk diberikan kekuatan kepada beliau dalam menghadapi setiap cobaan. Hal ini diketahui oleh Syekh Baba As Samasi dengan atas izin Allah SWT tanpa dikatakan oleh Syekh Bahaaduin. Gurunya berkata agar Syekh Bahaaudin mengubah doanya untuk menerima semua hal yang diridhai oleh Allah. Karena sejatinya Allah SWT tidak menginginkan cobaan apalagi marabahaya menimpa hambanya.

Syekh Bahaaudin juga sangat suka berkhalwat dengan menyepikan diri dan pikirannya dari urusan dunia dan fokus beribadah kepada Allah. Namun, suatu ketika beliau memiliki keinginan yang kuat ingin berbincang-bincang dengan orang lain. Setelah beliau memiliki keinginan tersebut ia mendengar suara “Hai, sekarang waktunya kamu untuk berpaling dan shalat kepada selain aku”.

Baca juga:  Pesona Wisata Banten,dari Bentang Alam hingga Sejarah

Tubuh Syekh Bahaaudin seketika bergetar dengan hebat. Beliau merasa tidak menentu hingga beliau berjalan kesana-kemari seperti orang kebingungan. Setelah sedikit tenang, beliau membasahi tubuhnya dan berwudhu kemudian shalat sunnah wudhu.

Pada saat melaksanakan shalat ini, beliau merasakan shalat yang sangat khusuk. Pada masa ini beliau seperti berbincang-bincang dengan Sang Pencipta. Syekh Bahaaudin diberi pertanyaan kenapa kamu melakukan hal ini, beliau menjawab agar bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kemudian Syekh Bahaaudin melanjutkan khalwatnya dan pada akhirnya suara itu muncul dan beliau meminta agar diberikan thoriqoh yang mudah diikuti oleh jamaah lainnya agar dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Permintaan beliau tidak langsung dijawab namun ditunjukkan di hati beliau. Secara singkat, beliau sudah kuat untuk menerima thoriqoh namun masih belum cukup siap sehingga harus melakukan 3 amalan, yaitu:

  • Istiqomah mengukuhkan syariat
  • Beramar Ma’ruf nahi mungkar
  • Menetapi azimah atau kesungguhan dan menjalankan agama secara menyeluruh

Untuk membuktikan kebenaran pertemuan spiritual tersebut, beliau diminta mengunjungi Syekh Maulana Syamsudin Al-Anquti lalu ceritakan pengalaman pertemua kasab (spiritual) ini. Beberapa hari kemudian temui kembali Syekh Amir Kulali di Desa Nasab dan bawa kopiah warisan yang diberi gurumu sebelumnya. Lalu letakkan kopiah tersebut didepan Syekh Amir tanpa mengatakan apa-apa karena beliau pasti mengetahuinya.

Kemudian, Syekh Bahaaudin di didik oleh Syekh Amir Kulali. Kemudian Syekh Bahaaudin belajar banyak hal yang dimulai dari khalwat selama 10 hari kemudian diikuti dengan belajar fiqih, hadis dan perilaku Rasulullah SAW. Inilah pelajaran yang diterima Syekh Bahaudin Naqsyabandiah sehingga thoriqoh Naqsyabandiah dapat dikatakan lengkap seperti saat ini.

Banyak para ulama besar sekarang menganggap bahwa thoriqoh atau tarekt Naqsyabandiah merupakan tarekat yang mengembalikan esensi sebenarnya dari tasawuf. Namun, Syekh Naqsyabandiah ini pernah berpesan selama hidupnya bahwa Tasawuf adalah bagian dari syariat agama Islam. Jadi, jika ada seseorang yang mengaku pengikut tasawuf tapi tidak mengikuti syariat, maka dia sesat.

Baca juga:  Definisi Sufi Secara Umum & Etimologi

Syekh Bahaaudin wafat pada tahun 1839 ketika berusia 74 tahun dan dimakamkan ditanah kelahirannya yaitu Bukhara. Sampai pada masa kini, makam beliau masih sering dikunjungi para peziarah dunia yang ingin berdoa kepada Syekh Agung yang membawakan tarekat Naqsyabandiah yang sekarang diikuti oleh banyak jamaahnya di seluruh dunia.

Selama hidupnya beliau memiliki banyak murid dan beberapa murid Syekh Bahaaudin memberikan penjelasan bahwa gurunya memiliki anugerah yang diberikan oleh Allah SWT. Salah satu muridnya yang bernama Syekh Tajuddin mengatakan bahwa ia memiliki kemampuan untuk terbang dan disuruh gurunya untuk mengunjungi Bukhara yang jaraknya hanya satu pos dari tempat ia berdiri. Dalam perjalanan ia bertemu dengan Syekh Bahaaudin, dan setelah itu Syekh Tajuddin mengetahui bahwa ia tidak bisa terbang kembali karena kemampuannya dicabut oleh Syekh Bahaaudin.

Pada masa yang lain ketika Syekh Bahaaudin telah wafat, seorang pria bernama Afif ad Dikaroniy ziarah ke maka Syekh Bahaaudin. Kemudian ada orang yang menjelek-jelekkan Syekh Bahaudin Naqsyabandiah. Afif telah memperingatkan orang tersebut namun dihiraukan. Tidak lama kemudian orang yang menjelekkan nama Syekh menjerit kesakitan karena serangga. Ia kemudian meminta maaf dan bertobat dan seketika itu pula ia terbebas dari serangga tersebut.

Itulah sepenggal kisah dari Syekh Bahaudin Naqsyabandiah yang perlu Anda ketahui. Dari kisah beliau Anda dapat melihat dan memahami bahwa Thoriqoh Naqsyabandiah sangat baik untuk diikuti karena dapat meningkatkan kekhusukan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT

Sumber:

Al-Khani, di dalam kitab Al-Hada-Iqul Wardiyah, menurut Yusuf bin Ismail An-Nabhani di dalam bukunya yang berjudul Jaami’u karaamatil Aulia.

Nasution, Harun, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah: Sejarah Asal Usul dan Perkembangannya, Tasikmalaya: IAILM, 1990.

Baca juga:  Sukses Bisnis Melalui Ilmu Tauhid

Saerozi, KH. Zamroji. Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Pusat Pare Kediri.

 

 

 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending Topics

AndikaTalk

Follow kami di :

EKONOMI & BISNIS

Adsense

MOTIVASI

Download E-book Gratis!

Download E-book dan E-magazine Grapadinews Gratis!

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This