Tarekat, Jalan Istimewa Mendekatkan Diri Pada Allah SWT

by | Sep 11, 2022 | Khazanah

Menurut kalian kebenaran itu apa sih?

Apakah kalau 1+1 = 2 itu merupakan kebenaran? atau justru yang benar adalah 3?

 

Mungkin kalian akan menilai artikel ini sesat karena menyalahkan 1+1 = 2, tapi tidak begitu adanya. Pada artikel ini kita akan membahas bagaimana hakikat menjadi manusia dan memahami ciptaan Allah SWT sebagai sesuatu yang istimewa sehingga semakin mendekatkan kita padaNya. Sejatinya kebenaran sendiri dibagi menjadi 2 jenis yaitu kebenaran mutlak dan relatif, suatu kebenaran dapat dikatakan mutlak apabila klaim kebenaran tersebut diakui oleh orang banyak bahkan dunia sebagai contoh 1 + 1 = 2, seluruh dunia mengakui ketika saya punya satu kue kemudian adik saya memberikan saya satu kue maka saya mempunyai dua kue dan dapat dikatakan relatif jika kebenaran tersebut mempunyai banyak kontradiksi atau pertentangan.

Kisah Sufi

Akal pikir yang dimiliki oleh manusia untuk melihat dan menilai sebuah kebenaran inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk istimewa dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Keistimewaan yang dimilikinya bukan saja terletak pada kejadian fisik jasmaniahnya saja, tetapi juga pada kejadian ruhaniahnya.

 

Dengan keistimewaan inilah, kemudian manusia diutus untuk berada di bumi dan menjaga ciptaan Allah SWT. Sehingga, sudah menjadi tanggung jawab manusia untuk terus berikhtiar dan bertaqwa kepada Allah SWT. Salah satunya lewat jalan Tarekat.

 

Secara harfiah, tarekat berarti jalan. Tarekat ialah perjalanan yang ditempuh berdasarkan syariah Thariq atau jalan untuk menuju jalan hakikat dengan lebih memahami, mengetahui, dan mengenal Allah SWT

Ibaratnya begini, sudah tahu jalan menuju ke Surabaya dengan mengendarai bus, tapi tidak tahu pasti Surabaya bagian mana yang akan dituju. bisa-bisa salah alamat. Sama seperti manusia diutus berada di bumi, tapi pas ada di bumi nggak tahu tujuannya apa, mau berbuat apa. Bisa-bisa tersesat dan malah menjadi tidak bermanfaat ada di Bumi, padahal tujuan penciptaan manusia adalah untuk terus menjaga bumi ciptaan Allah SWT. Oleh sebab itulah jalan menuju Allah SWT itu, dalam ilmu tasawuf disebut dengan tarekat (thoriqoh)

Baca juga:  Taklukkan Berbagai Wilayah, 12 Suri Tauladan Kepemimpinan Umar bin Khattab Patut Dicontoh

 

Dalam   kehidupan   sekarang   ini,   situasi   umat   yang   cenderung  mengarah   kepada kebobrokan moral, pupusnya rasa percaya diri, mengeringnya rasa persatuan dan persaudaraan, kasih sayang, tolong-menolong dan semacamnya, tasawuf mulai mendapatkan perhatian serius dan dituntut peran sertanya untuk bisa terlibat secara aktif dalam rangka mengatasi masalah-masalah  yang  dihadapi  oleh  umat,  khususnya  generasi  muda.

 

Di  tengah-tengah  kehidupan  yang  serba  materialistik  seperti  saat  ini,  banyak  umat muslim yang  tidak  lagi  mementingkan  salat  di  awal  waktu.  Ketika  adzan berkumandang,  di pasar, kantor, terminal serta tempat-tempat lainya masih saja hiruk pikuk dipenuhi dengan umat muslim yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka tidak bergegas menunaikan panggilan  azan  bahkan  ada  juga  yang  melalaikan  shalat  lima  waktu.

 

Jika melihat permasalahan tersebut, maka tarekat dalam hal ini memiliki posisi strategis dalam  membentengi  umat  dari  proses  kemerosotan  moral  dan  spiritual, yaitu  dengan memelihara dan menumbuh kembangkan nilai-nilai spiritual melalui tasawuf. Hal ini akan lebih didukung lagi karena tarekat yang tumbuh berkembang di wilayah Indonesia jumlahnya sangat banyak, bahkan Indonesia menjadi negara dengan jumlah tarekat terbanyak di dunia, bahkan secara hukum, aktivitasnya dijamin dan dilindungi oleh Undang-Undang Dasar 1945

 

Allah SWT telah menunjukkan jalan kepada manusia untuk mendekati-Nya. Di antaranya, dengan mendirikan shalat sebagai bentuk penghambaan, mengeluarkan zakat sebagai wujud kepedulian kepada sesama, melaksanakan haji sebagai wujud perjuangan mencapai ridho nya, dan mengerjakan puasa sebagai bentuk pengendalian diri dan hawa nafsu.

 

Para pengikut tarekat ini biasanya dibimbing oleh seorang guru pembimbing yang disebut dengan mursyid. Bimbingan dilakukan secara rutin dan bertahap melalui maqamat (cara dalam menempuh jalan kesufian) dan ahwal (keadaan mental) hingga akhirnya dekat dengan Allah SWT.

Baca juga:  Pelita Masjidil Haram, Abu Bakar Al-Kattani

 

Dalam ilmu tasawuf, untuk mencapai derajat kewalian (kekasih Allah SWT), sebagaimana dijelaskan Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari, dalam kitabnya Kifayat al-Atqiya’ harus melalui empat tahapan, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.

 

Syariat adalah unsur pokok untuk menuju tingkat selanjutnya. Syariat ini meliputi hal-hal pokok dalam ajaran Islam, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji. Dan, syariat tidak boleh ditinggalkan oleh mutashawwifin (pelaku tasawuf). Dalam pandangan al-Ghazali, tarekat tanpa syariat maka tasawuf menjadi batal.

 

”Sesungguhnya hakikat tanpa syariat adalah batal dan syariat tanpa hakikat maka tidak berarti”.

Maksudnya adalah orang yang mengikuti tarekat tanpa memahami syariat maka jalannya belum benar. Karena itu, dia harus memahami secara mendalam masalah syariat. Dan, antara syariat, tarekat, serta hakikat tidak boleh saling bertentangan.

 

Jadi, singkatnya, syariat merupakan peraturan, tarekat adalah pelaksanaannya, sedangkan hakikat merupakan keadaan, dan makrifat tujuan akhir. Semua jalan ini kemudian ditempuh untuk mempertebal hati, sehingga tidak ada yang dirasa indah dan dicintai kecuali keindahan dan kecintaan kepada Allah SWT, dan kecintaan tersebut dapat melupakan dirinya sendiri dan dunia ini seluruhnya.

Dalam tradisi Islam, sesungguhnya perilaku tarekat sudah lama dipraktikkan, bahkan sejak zaman Rasulullah SAW masih hidup. Tarekat pada masa lalu berbentuk perilaku asketis alias meninggalkan keduniawian atau zuhud. Sikap inilah yang kemudian berkembang dan dikembangkan oleh ulama masa lalu sebagai model tarekat. Dengan tarekat ini, seorang Muslim memiliki jalan untuk menempuh dan menapaki pengetahuan akan Allah SWT-nya.

Indonesia memiliki standar dan kualifikasi tentang tarekat mana yang bisa dipraktikkan. Misalnya, organisasi Nahdlatul Ulama (NU) memberikan kualifikasi dan standar tarekat mana yang bisa diikuti oleh NU. Contohnya tarekat Mu’tabarah yang dikenal memiliki keterkaitan dan garis genealogis dari Rasulullah SAW.

Baca juga:  Rindu Rasulullah Mengubah Hidup Lebih Baik

 

Dalam dunia modern ini, tarekat menjadi hal yang mungkin diperlukan umat Muslim. Karena dengan tarekat, manusia memiliki sarana dan cara untuk kembali kepada Allah SWT serta memahami dan mengenal sifat Allah SWT secara mendalam.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending Topics

AndikaTalk

Follow kami di :

EKONOMI & BISNIS

Adsense

MOTIVASI

Download E-book Gratis!

Download E-book dan E-magazine Grapadinews Gratis!

You have Successfully Subscribed!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This