Pada tahap awal membangun perusahaan, hampir semua keputusan memang sering berada di tangan pendiri. Mulai dari menentukan harga, memilih pemasok, merekrut karyawan, menangani pelanggan, sampai memutuskan ke mana perusahaan akan bergerak.
Cara seperti ini biasanya terasa efektif ketika bisnis masih kecil. Jumlah orang yang terlibat belum banyak, masalah belum terlalu kompleks, dan pemimpin masih bisa mengetahui hampir seluruh aktivitas perusahaan.
Namun, persoalan mulai muncul ketika perusahaan tumbuh.
Jumlah pelanggan bertambah, karyawan semakin banyak, cabang mulai dibuka, transaksi meningkat, dan keputusan yang harus dibuat menjadi semakin kompleks. Pada titik tersebut, kebiasaan seorang pemimpin untuk selalu mengambil keputusan sendiri justru dapat menjadi salah satu hambatan pertumbuhan.
Bukan karena seorang pemimpin tidak boleh mengambil keputusan.
Masalahnya adalah ketika hampir semua keputusan harus menunggu persetujuan satu orang.
Dari Kecepatan Menjadi Bottleneck
Pada awal bisnis, keputusan yang terpusat pada pendiri dapat menjadi sumber kecepatan.
Misalnya, seorang pemilik usaha dapat langsung mengatakan:
"Besok kita mulai."
Tidak perlu rapat panjang. Tidak perlu menunggu persetujuan banyak pihak.
Tetapi ketika perusahaan sudah memiliki puluhan atau ratusan karyawan, pola tersebut bisa berubah menjadi bottleneck.
Satu keputusan kecil harus menunggu direktur.
Satu pengeluaran harus menunggu pemilik.
Satu perubahan strategi harus menunggu founder.
Bahkan keputusan operasional yang sebenarnya dapat diselesaikan oleh manajer harus naik ke level tertinggi.
Akibatnya, pemimpin bukan hanya mengurus keputusan strategis, tetapi juga terseret ke dalam keputusan operasional sehari-hari.
Perusahaan akhirnya memiliki banyak orang yang bekerja, tetapi pusat pengambilan keputusan hanya satu.
Perusahaan Bisa Tumbuh, tetapi Organisasinya Tidak
Salah satu tanda yang menarik adalah ketika omzet perusahaan meningkat tetapi struktur organisasinya tidak berkembang mengikuti kompleksitas bisnis.
Pendiri masih menjadi orang yang paling tahu semuanya.
Semua orang bertanya kepada pendiri.
Semua masalah dibawa kepada pendiri.
Semua keputusan penting maupun kecil akhirnya kembali kepada pendiri.
Dalam jangka pendek mungkin terlihat seperti kontrol yang kuat.
Namun dalam jangka panjang, perusahaan menjadi terlalu bergantung pada satu individu.
Ketergantungan seperti ini dapat menciptakan risiko organisasi.
Jika pemimpin tidak berada di tempat, keputusan menjadi lambat.
Jika pemimpin terlalu sibuk, masalah menumpuk.
Jika pemimpin salah mengambil keputusan, dampaknya dapat menyebar ke berbagai bagian perusahaan.
Dengan kata lain, perusahaan mungkin sudah besar secara ukuran, tetapi belum dewasa secara sistem manajemen.
Delegasi Bukan Berarti Kehilangan Kendali
Sebagian pemimpin enggan mendelegasikan keputusan karena khawatir kualitas keputusan akan menurun.
Kekhawatiran tersebut dapat dipahami.
Tetapi delegasi yang baik sebenarnya bukan berarti menyerahkan semuanya tanpa kontrol.
Delegasi berarti menentukan:
- keputusan apa yang boleh dibuat oleh tim;
- batas kewenangan setiap posisi;
- kapan sebuah masalah harus dieskalasikan;
- indikator apa yang harus dipantau;
- dan keputusan apa yang tetap berada di level direksi.
Dengan sistem seperti itu, pemimpin tidak kehilangan kendali.
Justru kendali menjadi lebih sistematis.
Misalnya, seorang manager dapat diberikan kewenangan melakukan pengeluaran sampai batas tertentu. Di atas batas tersebut, keputusan harus naik ke direktur.
Dengan demikian, tidak semua keputusan harus berhenti di meja pemimpin.
Pemimpin Seharusnya Mengurus Keputusan yang Bernilai Tinggi
Semakin besar perusahaan, semakin penting bagi pemimpin untuk membedakan antara keputusan yang penting dan keputusan yang hanya membutuhkan persetujuan.
Keputusan strategis seperti ekspansi, investasi besar, perubahan model bisnis, akuisisi, struktur organisasi, dan alokasi modal memang membutuhkan perhatian pimpinan.
Sebaliknya, keputusan operasional yang sudah memiliki prosedur dapat didelegasikan.
Ini bukan sekadar masalah efisiensi waktu.
Ini berkaitan dengan alokasi perhatian pemimpin.
Waktu seorang CEO adalah sumber daya yang terbatas.
Jika sebagian besar waktunya habis untuk menyelesaikan persoalan kecil, maka semakin sedikit waktu yang tersedia untuk memikirkan masa depan perusahaan.
Padahal perusahaan membutuhkan pemimpin untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar:
Ke mana perusahaan akan bergerak?
Pasar mana yang ingin dimasuki?
Bisnis mana yang perlu dikembangkan?
Investasi mana yang harus dilakukan?
Risiko apa yang harus diantisipasi?
Dan kemampuan organisasi apa yang harus dibangun?
Terlalu Sentralistik Juga Bisa Mematikan Inisiatif
Ada dampak lain yang sering tidak terlihat.
Ketika setiap keputusan selalu diambil oleh pemimpin, anggota organisasi dapat terbiasa untuk tidak mengambil keputusan sendiri.
Mereka akhirnya berpikir:
"Lebih baik tunggu instruksi."
Budaya seperti ini dapat membuat organisasi kehilangan inisiatif.
Karyawan mungkin memiliki ide, tetapi tidak mengusulkannya karena merasa keputusan akhirnya tetap berada di tangan atasan.
Manajer mungkin mengetahui masalah di lapangan, tetapi memilih menunggu arahan.
Lama-kelamaan organisasi menjadi pasif.
Padahal perusahaan yang sedang tumbuh membutuhkan lebih banyak orang yang mampu berpikir dan mengambil keputusan, bukan hanya lebih banyak orang yang menunggu perintah.
Leadership Berubah Ketika Perusahaan Bertumbuh
Gaya kepemimpinan yang efektif ketika perusahaan memiliki lima orang belum tentu cocok ketika perusahaan memiliki seratus orang.
Pada tahap awal, founder sering menjadi doer.
Ia ikut menjual.
Ikut mengurus operasional.
Ikut mencari pelanggan.
Ikut menyelesaikan masalah.
Namun ketika organisasi berkembang, peran tersebut perlu berubah.
Pemimpin harus semakin banyak menjadi builder of system.
Ia membangun orang.
Membangun struktur.
Membangun budaya.
Membangun proses.
Membangun sistem pengambilan keputusan.
Dan yang paling penting, membangun organisasi yang tetap dapat berjalan meskipun pemimpin tidak terlibat dalam setiap keputusan.
Di sinilah leadership mulai berbeda dari sekadar kemampuan menjadi pengambil keputusan.
Perusahaan yang Sehat Tidak Harus Selalu Bertanya kepada CEO
Salah satu ukuran kematangan organisasi justru dapat dilihat dari berapa banyak masalah yang mampu diselesaikan tanpa harus dibawa kepada CEO.
Jika semua persoalan harus naik ke atas, mungkin masalahnya bukan kurangnya kepemimpinan.
Bisa jadi perusahaan belum memiliki decision-making architecture yang jelas.
Siapa yang berwenang?
Siapa yang bertanggung jawab?
Siapa yang harus dikonsultasikan?
Siapa yang cukup diberi informasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab dalam struktur organisasi.
Dengan demikian, kepemimpinan tidak hanya hadir melalui figur pemimpin, tetapi juga melalui sistem.
Pada Akhirnya, Pemimpin Harus Membangun Organisasi yang Tidak Bergantung Padanya
Ironisnya, salah satu tanda keberhasilan seorang pemimpin bukanlah ketika seluruh organisasi selalu membutuhkan dirinya.
Justru sebaliknya.
Semakin matang sebuah perusahaan, semakin banyak keputusan yang dapat dilakukan oleh organisasi tanpa harus menunggu pemimpinnya.
Pemimpin tetap menentukan arah.
Tetap menetapkan standar.
Tetap mengalokasikan sumber daya.
Tetap mengambil keputusan strategis.
Tetapi organisasi sudah memiliki kemampuan untuk bergerak.
Pertumbuhan perusahaan pada akhirnya bukan hanya persoalan menambah omzet, pelanggan, atau cabang.
Pertumbuhan juga berarti meningkatkan kapasitas organisasi dalam mengambil keputusan.
Karena perusahaan yang hanya dapat bergerak ketika pemimpinnya hadir akan memiliki batas pertumbuhan yang sangat jelas.
Sebaliknya, ketika seorang pemimpin berhasil membangun orang, sistem, dan budaya pengambilan keputusan yang sehat, perusahaan memiliki peluang untuk tumbuh melampaui kapasitas individu yang mendirikannya.
Pemimpin yang baik bukan hanya orang yang mampu mengambil keputusan besar. Ia juga mampu membangun organisasi yang mampu mengambil keputusan dengan baik ketika dirinya tidak berada di ruangan.